Tentang
Wikasatrian

Mengambil saripati inspirasi dari warisan adiluhung nusantara yang penuh akan petuah kearifan budaya dalam mozaik keharmonisan dengan alam sekitar, kami tergerak untuk merintis WIKASATRIAN sebagai penjelmaan sebuah candradimuka untuk membangkitkan dan menempa etos jiwa kepemimpinan yang tangguh dari setiap insan WIKA, sekaligus sebagai bentuk bakti sumbangsih kami terhadap kemajuan bangsa.

WIKASATRIAN adalah kehalusan sanubari untuk membuka sekat-sekat budi pekerti dan kalbu dalam upaya bernaung diri kepada cakrawala alam. Melalui gerbang pemahaman itu, diharapkan kelak tercipta landasan kokoh pencerahan sejati yang mampu menjelma menjadi panduan kepemimpinan berbudi luhur.

SEJARAH

Bukan suatu kebetulan bila Wikasatrian dipenuhi simbol-simbol keindonesiaan dan kegiatan konservasi alam. Wikasatrian sebagai pusat pelatihan kepemimpinan bukan hanya sebuah tempat yang indah untuk melakukan pelatihan korporasi. Wikasatrian juga merancang sebuah model kepemimpinan yang dibuat se-Indonesia mungkin, dengan mengambil intisari kearifan lokal dari berbagai suku dan budaya di Indonesia.

Model kepemimpinan Nusantara ini dibangun berdasarkan riset akademis bersama PPM Manajemen dan kemudian Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada, dan akan dikembangkan terus melalui kajian-kajian ilmiah di masa mendatang. Pada tahun 2012 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada melakukan kajian ilmiah berbentuk studi etnografis terhadap nilai-nilai kepemimpinan berbasis kearifan lokal di Indonesia.

Riset ini menemukan, antara lain, terdapat tiga aspek yang selalu ada dalam kepemimpinan lokal, yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Aspek ketuhanan berisikan konsepsi ketuhanan dan adanya kebenaran tentang ketuhanan. Aspek hubungan manusia dan sosial berisikan konsepsi hubungan antara manusia dengan kelompok sosialnya, etika-moral dan ekonomi atau pengelolaan mata pencahariannya. Aspek kealaman berisi tentang konsepsi dan kelestarian alam. Apabila ditelusuri lebih dalam pada kepemimpinan setiap etnik yang diteliti ditemukan adanya etika/moral pemimpin yang berbudi luhur yang memiliki keluhuran budi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya. Wikasatrian menempatkan budi luhur sebagai pusat dari perilaku seorang pemimpin. Pemimpin berbudi luhur memiliki makna penghayatan tentang konsepsi pengosongan diri dari kebendaan, nafsu, dan kekuasaan.

MISI

Mengembangkan Pemimpin Sebagai Inspirator Bagi Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal Mewakili Indonesia Di Kancah Global